25 September 2007

SUKSES TERCAPAI TARGET TANAM DAN PEMELIHARAAN

SUKSES TERCAPAI TARGET TANAM & PEMELIHARAAN?

(KUNCINYA ADALAH TENAGA KERJA)

Target produksi akan tercapai, bila sumberdaya (pendukung) yang dibutuhkan terpenuhi. Demikian juga, kalau kita bicara tentang (produksi) tanaman. Produksi tanaman (plantation) dimaksud adalah proses pembangunan tanaman, meliputi proses penanaman itu sendiri dan kegiatan pemeliharaannya hingga mapan (established). Sedangkan Sumberdaya pendukungnya meliputi SUMBERDAYA ALAM, SUMBERDAYA BAHAN/ALAT, DAN SUMBERDAYA MANUSIA.

SUMBERDAYA ALAM tentu saja menjadi perhatian utama, dan itu pastikan telah menjadi pertimbangan ketika menyusun rencana (kapan dan berapa luas menyiapkan lahan, menanam dan memelihara, bahkan telah kita pakai ketika memutuskan bahwa kita memilih Acacia mangium sebagai “jalan hidup” kita). Kaitannya dengan target tanam, misalnya, harus didasarkan pada curah hujan. Sumberdaya alam dipadu dengan budaya (manusia), dan kaitannya dengan target dan waktu, maka kemudian dikenallah istilah hari efektif kerja. Misal tanam, kita bisa prediksikan di Bulan September ini (2007), karena baru awal dari musim hujan, maka cukup 5-7 hari efektif kerja (hek). Di bulan Oktober, sungguh pun intensitas hujan diprediksikan mulai sering, tetapi karena budaya kita punya hari lebaran, maka kita bisa taruh 15 hek. Bulan November curah hujan full, sehingga hari efektif kerja bisa 22 atau bahkan 31 (tinggal atur rotasi libur tenaga kerja). Dan bulan Desember, curah hujan tinggi, tetapi sebagian besar dari kita (dan tenaga kerja) merayakan hari Raya Kurban dan sebagian lain juga merayakan hari Natal, maka cukup 22 hek. Inilah pentingnya faktor sumberdaya alam dijadikan dasar dalam merencanakan kegiatan.

SUMBERDAYA BAHAN/ALAT direncanakan pengadaannya, sesuai target dan kemampuan finansial perusahaan. Saya kira, faktor ini sudah tidak menjadi barang pembatas bagi perusahaan (sebagai a tree growing company), dengan komitmen manajemen yang memprioritaskan kegiatan operasional, termasuk tanaman (Ingat, karena kegiatan inilah yang menghidupi perusahaan dan, tentu saja, juga karyawannya). Bahan dan alat untuk kegiatan tanam dan pemeliharaan, bisa disebutkan disini, adalah Bibit, pupuk, herbisida, cangkul atau dodos, parang, knapsack, gunting/gergaji untuk singling, tali ajir, drum (wadah air untuk penyemprotan herbisida), alat pendukung camp/kantor/mandah, alat komunikasi (HT atau RIG), alat transportasi (mobil, truk, whell traktor), dan tentu saja, biaya. Ini pun perlu perhitungan dan perencanaan yang matang, agar dapat di-order dan kemudian diadakan oleh Bagian Akuntansi & Keuangan, Bagian Umum dan Bagian Logistik secara cepat.

SUMBERDAYA MANUSIA. Sumberdaya manusia internal perusahaan (baca; karyawan seluruh departemen), tentu saja tidak boleh berhenti diasah (dan diasuh), tidak boleh berhenti berkembang, tidak boleh tidak disiplin, harus bekerja keras, saling ber-sinergis dan tidak boleh lemah! Ada faktor sumberdaya manusia yang lain, ketika kita bicara TARGET. Dan itu adalah TENAGA KERJA.

Kita telah lama mengenal istilah HOK, alias HARI ORANG KERJA. Kegiatan penebasan total pada persiapan lahan, misalnya, memerlukan 5 HOK (real di lapangan). Artinya dalam satu hektar, pekerjaan tersebut selesai 5 hari dikerjakan oleh 1 orang, dengan 7 jam kerja/hari. Kalau dikerjakan oleh 5 orang, maka pekerjaan tersebut selesai dalam sehari (Ingat dikerjakan selama 7 jam/hari; jam 07.30-12.00 dan 13.00-15.30 jamaknya di tempat kita). Setelah melalui beberapa penelitian, dan belajar dari pengalaman, maka Jumlah HOK tiap-tiap kegiatan (real di lapangan) di MHP adalah sebagai berikut: Penebasan total (3-5 HOK), Semprot total (3 HOK), pengajiran (3 HOK), Pembuatan lobang tanam (3 HOK), Penanaman (3 HOK), Pemupukan (2-3 HOK), dan Singling (2 HOK). Data ini bisa dipakai untuk menghitung berapa kebutuhan tenaga kerja.

Masa Lalu. Mengapa tidak pernah Tercapai Target?

Ini pertanyaan mendasar, untuk kita semua. Dan, oleh karena kita tidak bisa mencapai target (terutama perawatan tanaman), kita merasakan akibatnya sekarang. Misalnya, “Orang tebangan” protes, susah sekalee memanen tanaman rotasi kedua karena kondisi tanaman serut, alias bergulma lebat (Saya tahu, pasti kalian juga protes, kalau kawan di tebangan juga bekerja tidak tuntas!!.. Wah, kalau diterus-terusin kita jadi berdebat, “Duluan mana antara ayam dan telur?”). Semua itu, disebabkan kita tidak disiplin, antara lain bisa jadi karena persiapan lahan kotor, tanam asal-asalan, perawatan hanya dilakukan di bagian depan, pelaksanaan mundur dari jadual atau tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Di masa lalu, paling banter 60% target pemeliharaan tanaman kita tercapai. Tanya. Kenapa?

Terlepas dari kemampuan finansial perusahaan waktu itu, yang jelas kita jarang memperhitungkan berapa jumlah tenaga kerja yang kita pinta (pinta kepada siapa?.. Kepada diri kita sendiri, kan?). Apalagi, terkesan bahwa, pencapaian target hanya terukur dari luas (bukan kualitas, sekali lagi bukan kualitas) tanam.

Untuk itulah, belajar dari masa lalu, sekarang kita mengenal istilah IOP, Integrated Operations Plan. Dalam bahasa kita, kira-kira Rencana Operasional Gabungan. Begitulah. Disitulah kita tahu apa pekerjaan kita (persiapan lahan? Tanam? Pemeliharaan?), lalu di mana dilakukan (kompartemen, kita bilang), luasnya berapa, kapan dilakukan, dan berapa kebutuhan logistiknya, misal butuh tenaga kerja berapa perhari, bibit? Pupuk? Herbisida? Sampai alat-alat pendukungnya. Berapa? Semuanya...

Nah, ketahuan kan sekarang. Bagaimana bisa tercapai target, kalau itu semua tidak kita ketahui dan penuhi dengan baik? Tahu Jawabnya.

Berapa Tenaga Kerja Tiap Hari harus Ada?

Untuk mengetahui berapa jumlah tenaga kerja per hari yang dibutuhkan, tentu saja, kita harus tahu pekerjaan apa saja dan berapa luas pada masing-masing bulan. Oke, secara detail kita sudah punya Rencana Operasional (RO, dan detail bisa dilihat di masing-masing Unit). Dari RO inilah, kemudian kita buat, itu tadi, yang namanya IOP.

Kebutuhan tenaga kerja dihitung dengan mempertimbangkan luas target persiapan lahan, tanam, dan pemeliharaan, standar HOK (real), juga pertimbangan hari efektif kerja, dan tata waktu kelola tanaman (silvikultur), maka akhirnya didapatkan angka kebutuhan tenaga kerja per hari. Sebagai contoh di Subanjeriji membutuhkan tenaga kerja perhari berturut pada bulan September hingga Desember 2007 adalah 1.564; 1.683; 1294, dan 1.646 orang/hari.

Barangkali kita agak kaget setelah tahu hasil perhitungan. Tetapi, mak itulah. Sebesar itulah tenaga kerja harus tersedia tiap hari di masing-masing Unit Tanam. Apa jadinya, kalau kita tidak bisa mendapatkan tenaga kerja sebanyak itu? Ya! Betul! Bisa ditebak, bahwa kita tidak akan bisa memenuhi target. Kalau ternyata selesai? Perlu diragukan kualitasnya! Jadi, kuncinya adalah… TëN@GÂ KëRJä. Itu pun, tidak selesai sampai disini. Tenaga kerja itu, masih harus “diurusi”, diarahkan, dilatih, dimotivasi, disupervisi dan dibuat betah menjadi mitra kita, sehingga tidak “selingkuh” alias ke lain hati. Tetapi, hingga kini, masih saja ada supervisor tanam kita yang nggak mau ngerti.

Bicara tentang target, ada baiknya kita resapi kata-kata ini. Orang yang biasa-biasa, menganggap TARGET sebagai BEBAN yang melelahkan. Orang-orang yang LUAR BIASA, menjadikan BEBAN sebagai TARGET yang menggairahkan.

Jika TARGET sudah ditentukan tetapi Anda tidak bertindak nyata karena takut gagal dan menanggung resiko, maka jangan bilang nasib Anda JELEK dan nasib orang lain lebih BAIK. Saya pinjam kata-kata itu dari Andrie Wongso (Maturnuwun... Siese..., Pak Andrie).

Wah, kerja ini gak ada abis-abisnya ya? Memang... Catatan harian saya ini pun baru selesai pkl. 23.00, tanggal 4 September 2007 (masih diedit pula besok sorenya..). Sedianya, khusus ditujukan untuk: Manajer Tanam Unit 1, 2, 3, 4 & 5, Seluruh Ka Blok, Ka Sub Bag Adm/Keu dan Kasub Blok di Wilayah Subanjeriji, bagi kemajuan dan kualitas tanaman (/masa depan) kita. Pasti! © (Saifudin Ansori)

Tidak ada komentar: