07 Oktober 2007

Ramadhan hampir usai, tetapi mengapa aku tidak menangis?

Setiap tahun ia datang selama sebulan, selama 29 atau 30 hari. Ia datang ‘membawa’ berkah (barokah), kasih sayang (rahmah) dan ampunan (maghfiroh), tentu saja bagi yang memanfaatkannya. Demikian para Ustad (dari madrasah diniyah, dimana aku mulai kenal alif ba ta, hingga Ustad terkenal yang banyak memberikan fatwa dan menulis buku-buku) menjelaskan kepada kita. Dialah Bulan Ramadhan. Kita sering menyambutnya dengan mengucapkan, “Marhaban Yaa Ramadhan...”. Selamat datang hai Ramadhan…

Allah SWT pun berfirman, bahwa dalam sebulan itu orang-orang yang menyatakan dirinya beriman diwajibkan untuk berpuasa. Tujuannya adalah agar bertakwa. Para ustad memberikan pengetahuan bahwa orang beriman adalah ketika secara lisan telah mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Secara hati dan keyakinan, mengiyakan, dan secara nyata dibuktikan dengan tindakan. “Sudahkah aku termasuk kedalam orang-orang yang beriman?” aku bertanya. “Secara manusiawi”, aku ‘ngotot’ bahwa aku sudah beriman. Untuk itulah aku merasa berkewajiban menjalankan perintah berpuasa, dan kenyataannya aku belum pernah melewatkan barang satu hari pun. Tetapi, kadang-kadang aku masih “khawatir”, jangan-jangan aku hanya dapat lapar dan dahaganya. Dimana berkah itu, dimana kasih sayang itu, dan dimana ampunanNya?

Masih menurut para ustad, di bulan Ramadhan harus diperbanyak amal sholeh (untuk mendapatkan semuanya itu). Dari amalan yang paling sederhana, belajar untuk memperkaya khasanah diri misalnya, hingga memperbanyak shodakoh dan berzikir kepada Yang Maha Kuasa. Masih terasa betul, ketika aku mulai bisa membaca al-qur’an dengan lancar, bersama kawan-kawan sepermainan, setiap bakda tarawih dan shubuh, kami berkumpul melingkar di meja bundar di masjid yang asri di kampung kami, dan membaca al-qur’an secara bergantian (tadarus). Nyess.. rasanya. Selama sebulan, kami bisa menghatamkan selama 3-4 kali. Kemudian setelah khatam terakhir, kami menghadiahi kami sendiri, dengan pesta kecil. Setiap orang “wajib” ikut merayakan prestasi kami dengan membuat makanan (istilah kami langsangan), kemudian kami makan bersama di masjid.

Bulan Ramadhan, di waktu aku masih kecil dulu, adalah bulan yang kami tunggu-tunggu. Kami bisa bermain petasan secara “bebas” setiap habis berbuka. Tidak punya uang untuk beli pun, kami bisa mengganti suaranya dengan membikinnya dari batang bambu yang kami isi dengan minyak tanah dan belerang dan kemudian kami sulut dengan api (kami namakan Long. Lucu ya?). Kami bisa berebut menabuh bedhug keras-keras sehabis usai sholat tarawih. Kami boleh tidak bekerja seperti bulan yang lainnya. Kami sering membuang waktu dengan mandi di sungai di siang dan sore hari. Kami sangat gembira karena banyak orang yang ngasih kami uang jajan. Kami sangat senang menyambut lebaran, dengan takbir keliling membawa obor berjalan kaki. Kami sangat senang dengan dibelikan baju baru. Kami sangat senang banyak famili datang berkunjung. Kami sangat gembira bisa jalan kaki atau bersepeda bersama-sama kawan mengunjungi guru-guru kami. Kami saling memaafkan kesalahan selama setahun kami. Kami punya banyak makanan yang warna warni. Itulah realita bulan Ramadhan di masa kecilku.

Begitu istimewanya bulan Ramadhan di masa kecilku. Itukah berkah? itukah kasih sayang?, dan itukah ampunan? Itukah keistimewaan Ramadhan? Itulah kenyataan yang kami rasakan dulu.

Para Ustad menjelaskan, keistimewaan bulan Ramadhan adalah waktu dimana pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup serapat-rapatnya, dan syetan-syetan dibelenggu. Istimewa yang lain adalah Allah menurunkan al-qur’an, sebagai pegangan hidup (hudan li-naas) yang bisa membedakan antara hak dan bathil, di bulan Ramadhan. Dari al-qur’an itu pula kita diberi petunjuk untuk membaca. Allah menurunkan lailatul qadar di bulan Ramadhan ini, yaitu malam yang hitungannya lebih baik dari 1.000 bulan. Hikmah puasa mampu meningkatkan hubungan ilahiah (hablum minallah) dan rasa solidaritas kita (hablum minannaas). Ramadhan mampu merobah kehidupan kita. Puasa bisa meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani kita. Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda, “tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.” Apalagi amalan yang lebih nyata! Dan masih banyak lagi, yang sering terdengar di telinga dan terbaca oleh mata kita.

Ramadhan hampir usai. Tetapi adakah hikmah yang aku rasakan, selain lapar dan dahaga? Adakah aku tambah dekat dengan Yang Maha Kuasa? Adakah aku semakin peduli dengan sesama? Adakah berkah yang saya rasakan? Adakah bertambah kasih sayang? Adakah aku merasa aman dimaafkan? Adakah aku merasa terengkuh seribu bulan? Adakah aku sudah bertakwa?

Ramadhan hampir usai. Sebentar lagi meninggalkanku. Setahun lagi aku bisa menemuinya kembali. itupun kalau Allah memberiku umur panjang. Tetapi, mengapa aku tidak menangis? (Saifudin Ansori)

2 komentar:

Moch Taviv mengatakan...

Semoga setelah menjalani puasa sebulan penuh kualitas hidup kita menjadi lebih baik

Moch Taviv mengatakan...

Tolong rubah link blog ku, dengan mochtaviv.blogspot.com